Rabu, 18 Mei 2011

KEKUATAN BERPIKIR POSITIF


http://www.mail-archive.com/daarut-tauhiid@yahoogroups.com/msg01247.html


KEKUATAN BERPIKIR POSITIF



Apa yang terjadi pada kita hari ini, adalah apa yang pernah kita pikirkan di masa lampau.
Beberapa waktu yang lalu, tanpa sengaja saya menemukan buku harian saya ketika saya masih SMA. Saya sempat terkejut, karena di sana ada beberapa doa yang pernah saya panjatkan kepada Allah, yang kini telah menjadi kenyataan.
Saya tidak perlu menyampaikan detail do'a itu kepada Anda. Tetapi, intinya waktu itu saya ingin lebih memahami Eksistensi dan Ilmu-ilmuNya untuk mendekatkan diri kepadaNya.

Tentu saja, hari ini saya belum merasa dekat kepadaNya. Tetapi, jalan untuk mendekatkan diri dan proses memperoleh kefahaman atas Ilmu-IlmuNya itu kini terbentang demikian luas di hadapan saya.

Saya tidak pernah membayangkan bahwa ini akan terjadi. Sebab, saya sekolah bukan di sekolah agama secara formal. Yang tidak mendidik saya menjadi seorang mubaligh, tapi menjadi seorang saintis atau teknolog.
Banyak kejadian yang menggiring kehidupan saya menuju pada apa yang pernah saya doakan kepada Allah beberapa tahun yang lalu.



Kini saya merenungkan semua itu, justru ketika saya sedang menulis diskusi tentang kekuatan Jiwa dan Ruh.
Saya jadi teringat perkataan orang bijak: bahwa engkau hari ini, adalah apa yang kamu pikirkan di masa lampau.



Atau perkataan William Shakespeare : "bukan aku yang membentuk puisiku, tapi puisiku yang membentuk aku menjadi seperti ini." Atau, cerita Einstein tentang teori-teorinya yang spektakuler : "aku tidak tahu bagaimana prosesnya, tiba-tiba ide itu muncul dalam pikiran saya."

Kini, setelah saya merenung tentang kekuatan otak dan Jiwa, saya mulai menemukan titik terangnya. Saya merasa ada benang merah yang bisa menjelaskan semua itu.

Sebagaimana kita bahas di depan, bahwa otak dan Jiwa manusia mengalami perkembangan dan menuju proses penyempurnaan terus-menerus. Sel-sel otak terus berkembang atau menyusut seiring dengan pikiran dan perbuatan seseorang.



Jika seseorang berpikir dan berbuat yang bermanfaat menuju kualitas tinggi, maka jumlah sel-sel otaknya bakal berkembang biak. Sebaliknya, jika berpikir dan berbuat yang tidak bermanfaat berkualitas jelek, maka yang terjadi adalah penyusutan sel-sel otak.



Bagi otak, sebenarnya antara berpikir dan berbuat tidaklah ada bedanya. Ketika seseorang berpikir, muncullah sinyal-sinyal listrik. Demikian pula ketika seseorang berbuat, ia juga memunculkan sinyal-sinyal listrik. 'Dunia otak' tak lebih hanyalah dunia yang berisi sinyal-sinyal listrik.


Baik ketika dia sedang memerintahkan untuk menganalisa, berpikir, merenung, berkata-kata, melihat, mendengar, emosional, maupun bergerak atau berlari.
Semuanya tak lebih hanya berupa sinyal-sinyal listrik belaka, yang memerintahkan organ-organ lainnya untuk bereaksi.

Karena itu, bagi otak tidak ada bedanya antara berpikir dan berbuat.


Jika kita berpikir dan berbuat jahat, sel-sel otak bakal mengalami kerusakan secara bertahap seiring dengan lamanya aktivitas itu.

Sebaliknya, kalau kita berpikir dan berbuat baik, sel-sel sarafnya bakal berkembang biak. Sel-sel saraf yang berkembang biak itulah yang bakal meningkatkan power alias kekuatan otak dan Jiwa seseorang. Karena kekuatan otak seiring dengan jumlah sel-sel saraf yang terbentuk semakin sempurna.



Ini mirip dengan otot. Jika kita melatih otot kita dengan beban-beban yang semakin besar, maka otot kita akan berkembang dan semakin kuat. Sebaliknya, jika kita tidak pernah melatihnya bermalas-malasan maka otot kita bakal melemah, dan berkurang jumlah sel-selnya.



Tapi mekanisme otak jauh lebih kompleks dibandingkan dengan otot. Otak melibatkan mekanisme emosional dan bawah sadar seseorang.
Dr Timothy Leary mengatakan bahwa otak bagaikan sebuah jaringan yang tersusun dari 100 miliar komputer induk (main frame) yang bekerja secara sangat kompleks.



Secara emosional, jika orang berpikir mengarah kepada sifat sombong, iri, dengki, benci, dendam, marah, culas, bohong dan sebagainya, ia sama saja dengan sedang merusak sel-sel otaknya.
Emosi yang jelek itu jika dilakukan secara terus-menerus bakal memiliki kekuatan merusak tidak kalah hebatnya dengan kanker atau tumor otak. Dan bakal 'menghancurkan' kekuatan otak, sekaligus jiwa seseorang.



Tapi, jika seseorang melakukan perbuatan-perbuatan yang penuh kasih sayang, kejujuran, kedamaian, ketentraman, keikhlasan dan sebagainya, maka ia sedang menyusun dan membangun kekuatan otak dan Jiwanya, lewat pertumbuhan sel-sel limbiknya.



Bahkan selain mekanisme emosional, terdapat mekanisme bawah sadar yang sangat misterius. Yang oleh Carl Gustav Jung disebut sebagai 'Ketidaksadaran kolektif'. Atau oleh Maxwell Waltz dinamakan 'Servo Mechanism' alias mekanisme otomatis.


Ini adalah sebuah mekanisme di luar kesadaran seseorang, yang berlaku secara universal pada semua orang.

Bahkan mekanisme itu bukan hanya berpengaruh pada diri seseorang saja, melainkan bisa terhubung kepada orang lain. Bahkan, melibatkan berbagai mekanisme alamiah di sekitarnya.

Ada suatu 'Mekanisme Tunggal' yang menghubungkan segala sesuatu di alam semesta raya. Mulai dari benda-benda besar alam makro seperti interaksi miliaran benda-benda langit lewat gaya gravitasinya, sampai pada partikel-partikel di alam mikro yang berinteraksi lewat gaya-gaya nuklir.

Dan ternyata, mekanisme bawah sadar manusia juga terhubung kepada interaksi-interaksi tersebut membentuk suatu hubungan alamiah yang saya sebut sebagai 'Mekanisme Universal'.


Mekanisme Universal ini bagaikan 'The Giant main frame' alias komputer induk raksasa yang mengatur segala kejadian di alam semesta. Mulai dari yang kecil sampai yang besar. Dari yang mati sampai kepada yang hidup. Dari yang sederhana sampai yang sangat kompleks dan rumit.


Dalam istilah Al-Qur’an komputer raksasa itu dinamakan sebagai Lauh mahfuzh atau Kitabin Mubin (kitab yang nyata), atau 'ummul kitab' (induk segala kitab).
Termasuk kitab Al-Qur’an adalah sebagian dari Lauh Mahfuzh tersebut.


Di kitab inilah tersimpan segala mekanisme alam semesta, termasuk segala kejadian yang lalu, maupun yang akan datang, sebagaimana difirmankan Allah dalam berbagai ayatNya.

Atau dalam istilah Stephen Hawking kitab itu adalah 'The Grand Formula' (Rumus Segala Kejadian), yang bisa digunakan Untuk mengetahui kejadian masa lalu dan masa datang, di seluruh penjuru alam semesta.



QS. Al Anaam (6) : S9
Dan di sisi Allah lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang
mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh
Mahfuzh).


Ayat di atas memberikan gambaran yang menarik tentang keberadaan 'Kitab Induk' itu. Sebuah kitab yang memuat kunci-kunci semua kejadian ghaib (yang tidak kita ketahui), baik di daratan maupun di lautan. Yang basah maupun yang kering. Daun yang gugur maupun sebutir biji yang sedang tumbuh dalam perut bumi.

Di ayat yang lain bahkan Allah memberikan gambaran yang lebih menyeluruh dengan menyebut segala kejadian di wilayah langit dan bumi. Sebesar partikel sub atomik maupun yang lebih kecil 1agi atau lebih besar daripadanya.

Ya, seluruh kejadian di makrokosmos maupun mikrokosmos ternyata sudah termaktub di dalam Lauh Mahfuzh. 



...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar