Kamis, 14 Juni 2012

Psikologi Transpersonal

Psikologi Transpersonal


by Hisyam A Fachri. on Monday, September 19, 2011 at 2:11am ·


Di dalam ilmu psikologi terdapat berbagai kekuatan atau mashab yang mengacu pada apa yang kerap diajarkan oleh hampir semua lembaga pendidikan psikologi. Dan yang paling populer dan banyak diminati oleh para psikolog adalah Behavioristik, Psikoanalisa dan Humanistik namun masih ada setidak-tidaknya 2 aliran kekuatan yang masih sedikit orang untuk mempelajarinya yaitu Transpersonal dan Positif.



Behavioristik, memandang bahwa prilaku manusia didorong oleh reaksinya terhadap stimulus-stimulus dari luar dirinya. Jadi analisa terhadap prilaku manusia dilakukan berdasarkan prilaku yang tampak. Sementara Psikoanalisa, yang dimotori oleh Sigmund Freud melihat bahwa prilaku manusia yang tampak ibarat hanya sebuah puncak yang terlihat dalam kesadarannya, artinya sesuatu yang lebih besar ada pada pikiran bawah sadar manusia yang tak terlihat dan perlu melakukan analisa-analisa tertentu untuk mengungkapnya.

Sedangkan Humanistik, yang dipelopori oleh Abraham Maslow pernah mengklaim bahwa humanistik menyatukan apa yang menjadi kelemahan behavioristik dan psikoanalisa. Menurutnya bila behavioristik selalu melihat manusia berdasarkan hal-hal yang ada diluar dirinya dan psikoanalisa terlalu memandang manusia dikendalikan oleh bawah sadarnya, maka humanistik memperhitungkan sebab akibat dari keduanya.

Humanistik menekankan pada manusia itu sendiri dalam menjalani kehidupannya. Fokus ini terletak pada eksistensi menjalani kehidupan, sehingga dalam berbagai konsepnya lebih banyak menekankan pada tanggung jawab, kreatifitas, alibi dan lain-lain.



Adapun aliran atau kekuatan ke 5 lainnya adalah psikologi Positif, ia membedakan dari semua aliran dari cara pandang manusia dan kehidupan. Ia memberikan pemahaman bahwa manusia adalah baik dan memiliki hukum positif serta menempatkan sebuah misteri atau kemisteriusan dalam perjalanan hidup sebagai kekuatannya. Sehingga aliran ini lebih pada bagaimana melihat kehidupan dan manusia sebagai suatu yang perlu disikapi dengan baik. Lalu bagaimana dengan Transpersonal ?



Ya, ketika kita memasuki zaman modern dengan paradigma yang baru. Sesungguhnya pada abad sebelumnya, kita telah menyaksikan kemajuan dasar-dasar ilmu pengetahuan secara material paling mengagumkan sepanjang sejarah dengan adanya penemuan demi penemuan yang menjadi dasar pengembangan ilmu pengetahuan saat ini..

Dan sekarang kita sedang memulai sebuah kemajuan hebat di sisi yang lain yaitu dalam hal eksplorasi kekuatan mental dan kekuatan spiritual bagi umat manusia. Salah satunya telah diungkap dalam bidang psikologi, yaitu paradigma psikologi yang mulai bergeser ke ranah yang lebih tinggi yaitu ranah spiritual atau ranah transendental yang menjadikan pendekatan spiritual sebagai paradigma yang baru dalam dunia psikologi, dan ini bisa disebut sebagai psikologi transpersonal.



Tokoh yang menjuluki psikologi transpersonal sebagai ’kekuatan keempat dalam psikologi’, yang melengkapi tiga aliran besar yang telah ada sebelumnya: Psikoanalisis, Behavioristik, dan Psikologi Humanistik, adalah Abraham Maslow. Maslow menemukan bahwa beberapa orang yang mencari aktualisasi diri mengalami pengalaman puncak atau kesadaran diluar kesadarannya yang terhubung dengan nilai spiritual (peak experience)



Tahun 1968, Maslow pernah menulis: ”Saya memandang humanistik, sebagai kekuatan psikologi ketiga dimana menjadi transisi, persiapan menuju arah yang lebih tinggi lagi, sedangkan kekuatan keempat psikologi yaitu transpersonal, (transhuman), lebih terpusat pada kosmos, bukan pada kebutuhan dan minat manusia, yang bisa berlangsung melampaui batas-batas kemanusiaan, identitas, aktualisasi diri, dan keinginan-keinginan”



Dengan demikian Maslow menemukan bahwa beberapa orang yang mencari aktualisasi diri mengalami pengalaman puncak atau kesadaran diluar kesadarannya (peak experience) atau pengalaman transenden, sedangkan pada kekuatan psikologi lain tidak mengalaminya.

Sehingga dapat dikatakan bahwa terdapat dua hal penting yang membedakan antara menterjemahkan potensi dalam diri (self actualisation) dan sisi kehidupan spritual (self transcendence), sehingga hal ini merupakan titik perpindahan dari psikologi humanistik ke arah psikologi transpersonal.



Secara harfiah, kata transpersonal berasal dari kata ”trans” = melewati dan ”personal”= pribadi. Kepribadian dalam bahasa Inggris adalah personality; sementara personality berasal dari kata persona yang berarti topeng. Transpersonal dalam banyak literatur berarti melewati atau melalui "topeng", dengan kata lain melewati tingkat personal.



Dalam buku berjudul Introduction to Transpersonal Psychology, California State University, Northridge, 1979, John Peter Sarchio berpendapat bahwa psikologi transpersonal adalah suatu cabang psikologi yang memberi perhatian pada studi terhadap keadaan dan proses pengalaman manusia yang lebih dalam dan luas, atau suatu sensasi yang lebih besar dari koneksitas terhadap orang lain dan alam semesta, atau merupakan dimensi spiritual.



Carl Gustav Jung adalah tokoh yang penting dalam psikologi transpersonal. Dalam tulisannya tentang ketidaksadaran kolektif, Jung menyatakan bahwa ketidaksadaran kolektif dialami oleh semua orang, dan melalui hal tersebut manusia dihubungkan satu sama lain dalam cara yang sangat mendasar. Archetype (komponen struktural dari ketidaksadaran kolektif. Suatu bentuk pikiran universal yang mengadung unsur emosi yang besar.

Bentuk pikiran ini menciptakan gambaran-gambaran atau visi-visi yang dalam kehidupan sadar normal berkaitan dengan aspek tertentu dari situasi. Asal-usul archetype misalnya melalui deposit permanen dalam jiwa yang terulang selama banyak generasi. Contoh, keyakinan akan adanya dewa, archetypenya adalah Matahari) sebagaimana self, shadow, sisi baik dan buruk, semuanya mewakili isi ketidaksadaran kolektif dan merupakan dasar dari pengalaman transpersonal.

Ketika seseorang dapat mengalami archetype secara tidak langsung melalui mimpi, upacara ritual dan berbagai simbol, serta pengalaman mistik, menurut Jung hal itu merupakan pengalaman archetype yang langsung. Jung juga menyatakan bahwa pengalaman spiritual sebagai tanda kesehatan mental, yang akhirnya dapat membebaskan seseorang dari gangguan jiwa.



Oleh karena itu, J. Rowan (1993) dalam bukunya The Transpersonal: Psychotherapy and Counseling, memaparkan beberapa pengalaman transpersonal yang dapat digunakan terapis agar dapat mengakses kesadaran yang halus dalam hubungan terapeutik, di antaranya: kebangkitan spiritual, mimpi, pandangan mitologi, pengalaman mistis, intuisi, perjalanan shamanik, meditasi atau doa, imagery, dan bayangan (shadow) serta sistem simbol.



Rowan menyebutkan bahwa sistem simbol tersebut dapat digunakan untuk mengakses ketidaksadaran klien yang dapat digunakan sebagai petunjuk dalam melihat permasalahan klien khususnya ketika melakukan psikoterapi transpersonal. Sistem simbol yang disebutkan oleh Rowan yaitu kartu tarot dan astrologi. Seperti yang dituliskan dalam bukunya The Transpersonal: Psychotherapy and Counseling :

“Jika terapis memiliki pemahaman yang baik terhadap sistem simbol (misalnya astrologi atau kartu tarot) maka akan sangat membantu klien ketika berhadapan dengan batas-batas kesadaran. Sistem simbol ini dapat digunakan sebagai petunjuk tentang bagaimana klien memperoleh keadaan dirinya sendiri dan atau dimana klien bisa melanjutkan fase transpersonal untuk memperoleh apa yang diinginkan.

Bagi beberapa orang, gagasan ini mungkin tidak bisa diterima karena dianggap takhayul. Namun Rowan mengatakan bahwa sistem simbol ini dapat melayani jiwa (soul), karena dapat membuka saluran intuisi dan menjadi cara yang baik dalam berkomunikasi dengan klien pada tingkatan tertentu.”



Oleh Karena itu, saya melihat kartu tarot merupakan bagian dari konsepsi ketidaksadaran kolektif manusia, sehingga manusia saling terhubung. Archetype sebagaimana self, shadow, sisi baik dan buruk yang semuanya mewakili isi ketidaksadaran kolektif dan merupakan dasar dari pengalaman transpersonal. Seseorang dapat menyingkap isi dari ketidaksadaran secara tidak langsung melalui mimpi, pengalaman spiritual serta sistem simbol.
Tarot merupakan sistem simbol yang sudah disusun sedemikian rupa, untuk dapat mengungkap apa yang ada dalam ketidaksadaran klien. Sistem simbol tersebut, telah memiliki makna baik secara baku maupun secara intuitif dari seorang terapis dalam menyingkap ketidaksadarannya. Oleh karena itu, Jung menyebutnya sinchronity ketika sebuah kartu tarot dapat sesuai dengan apa yang ada dalam ketidaksadaran kita (klien). Karena hal tersebut adalah bagian dari hukum keterhubungan itu sendiri.



Karena kartu Tarot dapat mengungkap isi dari ketidaksadaran, didalamnya memuat Archetype, self, shadow, sisi baik dan buruk. Isi ketidaksadaran kolektif tersebut dapat mengantarkan klien dalam memperbaiki dirinya untuk menuju kepada tingkatan yang lebih tinggi, yaitu transendental. Dalam kondisi transendental, seseorang menjadi “unlimited being”, dimana ia telah terhubung atas alam semesta. Jadi tidak heran, orang-orang seperti inilah, keberlimpahan, kebahagiaan dan kepuasan akan senantiasa mendatanginya.





Hisyam A Fachri

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar