Rabu, 16 November 2011

Keberatan Nama...

...keberatan nama .. ?

ya ada lahh;..dulu nabi saw pernah menyuruh seorang bapak mengganti nama anaknya yg bermakna sulit; diganti nama lain yg bermakna mudah/ sahl.
nama itu nabi saw sendiri yg memberi nama pengganti.

nama bagi anak berujud ungkapan doa; harapan; amanat dari org tua yg ingin disematkan dan berharap terwujud pada pribadi anak2 nya;
sehgg tdk boleh asal dan sembarangan.


beri nama pada anak sesuai fitrahnya sebagai manusia; mahluk hidup; bukan benda mati/ tak bernyawa; bukan benda2 an; gender pria/ wanita; mahluk Tuhan; dan sifat2 baik dan luhur yang ingin diteladani or untuk panutan bagi sang anak.

fitrah manusia sendiri adalah mahluk hidup; bernyawa; punya energi/ bergerak; punya kekuatan/ ruh;  punya sifat2 mulia; dan punya arah dan tujuan yg pasti dan jelas dalam hidupnya.

nama hakikatnya adalah jiwa; cahaya; tuntunan; alur hidup; harapan; doa; yg disematkan pada si pribadi anak agar kelak mampu menjalani hidupnya dengan baik ;lapang; dan sempurna....dan selamat...

sehingga diharapkan anak diberi nama yg sejalan dgn fitrahnya sebagai manusia; yaitu  memiliki energi untuk bergerak dan berusaha; bukan benda mati; sesuaikan gender nya/ pria- wanita; sifat2 baik dan mulia; punya arah dan tujuan yg jelas dalam menjalani hidupnya;..dan bukan sekedar permainan  rangkaian huruf berirama tanpa makna... 

sering kali dalam hidupnya orang tua begitu terpedaya dan terpesona dengan gemerlap keduniaan yg berujud kebendaan dan materi;
sementara fitrah manusia/ esensi nya semata hanyalah ruh nya yg kekal ; yang  akan berlanjut selamanya;
sementara jasadnya akan fana dan lenyap..

kecenderungan ortu/ manusia pada kebendaan dan keduniaan itu lalu dimanifestasikan / dicitrakan / diabadikan pd nama anak2 nya yang lalu menamai nya dengan sifat2 benda mati tak berjiwa yang semata fana tak abadi;

sementara benda mati mempunyai sifat keras/ keras kepala; tak berakal; tak berjiwa; dan sulit menerima perubahan/ perbaikan/ kebaikan.....

misal ada nama anak2 berujud benda2 mulia/ mahal seperti batu2 an permata; intan; pirus  dll; semata karena kekaguman ortu nya akan keindahan benda2 gemerlap yang memiliki sifat keras dan tahan banting itu dan biasa dipergunakan dalam proses penambangan sebagai mata bor karena sifatnya yang amat keras dan tajam dan berguna untuk membelah bumi...


ada juga yg menamai anaknya dengan bentuk2 keindahan fisik dan semata kulit luar  karena semata berharap keindahan fisik pada anaknya bila kelak dewasa; mungkin didorong kondisi saat lahir si bayi tak cukup memberi kepuasan pada sang ortu akan bentuk fisiknya;
yg mana acuannya lalu semata saat itu saja dan semata dangkal;
akhirnya kejiwaan dan sisi dalam/ spiritual si anak lalu terabaikan dan semata hidupnya mengacu pada kulit luar yg dangkal dan bukan yg lain...


fitrah manusia yg bernyawa; berenergi; punya sifat2 mulia dan luhur;  dan bukan benda mati lalu dieliminir menjadi benda mati batu2 an karena kekaguman/ kecenderungan  manusia/ ortu akan gemerlap benda2 mahal yg gemerlapan dan menarik pandangan mata itu...


nama pada anak juga sedikit banyak bisa jadi gambaran/ acuan sifat2 / karakter anak dan menjadi tuntunan alur jalan hidup seperti apa yg akan dilaluinya kelak;
semacam tuntunan hidup;
anak2 dgn nama2 bermakna sifat2 baik/ hidup juga akan teridentifikasi memiliki sifat2 baik dan luhur yg termakna dalam nama itu;
sementara yg bernama benda2 mati / kulit/ fisikal ; sifatnya juga cenderung keras/ kepala batu mengikuti alur sifat nama itu.


nama ibaratnya tuntunan hati dan cahaya/ penerang bagi si pemilik nama.
dan bisa ditelusuri jalan hidup macam apa yg akan dilaluinya.


nama anaknya Fikri Saktiaji Danuwijaya;
humm;...
nama nya kok terkesan keras ya;
aji kan semacam benda mati macam jimat;..; batu2 an; setara benda intan/ permata/ batu2 an...
hakikat nya benda mati tak bernyawa dan keras...

saran saya ganti nama yg bernuansa lembut/ bersifat lembut; bermakna sifat2 baik mahluk hidup/ yg mulia...

bisa pertimbangkan nama2 abdul hakim; arif; abdul latif; nama2 yg bermakna sifat2 baik; teladan; mulia; luhur; lembut; agung....

demikian;
semoga bisa jadi pertimbangan..

btw;
selain nama; hal2 lain yang berpengaruh al; pola didik; pendidikan; pola asuh; suri teladan; lingkungan; gaya hidup; pergaulan; dlsb..

ok....

Mengganti sebuah nama bukanlah sesuatu yang dilarang oleh Islam, kecuali, mengganti nama yang baik dengan nama yang buruk. Bahkan sebaliknya, diperintahkan atau anjuran agar nama-nama yang tidak atau kurang sesuai dengan ajaran Islam diganti dengan nama yang baik.

Adapun contoh nama yang tidak Islami bisa dicontohkan dengan nama 'Abdul Hajar' (hamba batu), 'Abdul 'Uzza' (hamba berhala 'Uzza'), dan lain sebagainya. Nama-nama yang tidak Islami seperti ini harus diganti dengan nama-nama yang baik.

Diriwayatkan salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW, Hani. Datang satu delegasi kepada Nabi Muhammad SAW, lalu Nabi Muhammad mendengarkan mereka menyebut sebuah nama: Abdul Hajar. Maka berkata kepadanya: "Siapa namu kamu?", lalu ia menjawab: "Abdul Hajar". Lalu RasululLah saw berkata: "Sesungguhnya kamu adalah Abdullah," kata Rosulullah.

Adapun nama-nama yang kurang sesuai dengan ajaran Islam bisa dicontohkan dengan nama 'Harb' (perang), atau 'Hazin' (yang susah). Nama-nama seperti ini sebaiknya diganti dengan nama yang labih baik, seperti pernah diajarkan Rasulullah SAW.

Diriwayatkan oleh Said bin al-Musayyab, dari ayahnya, dari kekeknya, ia mengatakan: "Saya datang kepada Nabi Muhammad SAW., lalu beliau berkata: "Siapa Namamu?" Saya menjawab: 'Hazin."



Lalu RasululLah berkata: "Kamu Sahl (mudah).". Ia berkata: "Saya tidak akan mengganti nama yang diberikan oleh Bapakku.". Berkata Sa' id bin Musayyab: "Maka kesusahan itu selalu (menyertai) kita setelah itu."



Dengan demikian, mengganti nama yang bukanlah sesuatu yang dilarang dan dianjurkan mengganti nama sesuai dengan

ajaran Islam.
(krt/krt)

MENDERITA KARENA KEBERATAN NAMA


Ada anggapan, nama yang "berat" bisa mendatangkan sial. Penyandangnya sakit-sakitan atau hidupnya sering dilanda derita. Pendapat lain mengatakan, "nama yang buruk" akan mempengaruhi aktivitas pribadi dan sosial pemilik nama itu.
Bagaimana duduk perkara yang sebenarnya?

Tak jauh berbeda dengan apa yang diungkapkan pujangga Inggris terkenal William Shakespeare, what is a name, Kamus Besar Bahasa Indonesia hanya menjelaskan bahwa nama adalah kata untuk membedakan atau menyebut sesuatu atau memanggil seseorang.

Tapi, ada yang berpendapat bahwa sebuah nama, terutama nama seseorang, memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar sebutan. Ada pula yang menyebutkan, nama adalah kekuatan "jiwa" dari benda itu sendiri.
Selain menjadi identitas sepanjang hidup, nama konon menyimpan kekuatan misterius.


Sebutlah misalnya, Indah Suprapti Basuki. Sebuah nama yang bagus dan mengandung makna yang baik. Indah (cantik, elok), Prapti (datang),dan Basuki (sehat). Selalu cantik dan sehat, itulah harapannya.
Namun apa yang terjadi? Hingga usia 17 tahun si pemilik nama justru sering sakit-sakitan, keluar masuk rumah sakit, bahkan sempat nyaris meninggal. Berbagai upaya pengobatan seolah-olah sia-sia.

Akhirnya, meski terkesan mengada-ada, orang tua Indah lalu menempuh cara lain. Yakni mengganti nama sesuai tradisi Jawa dengan ditandai selamatan bubur merah-putih. Lantas, Indah Suprapti Basuki berganti nama menjadi Iin Suprapti. "Syukurlah, dengan nama baru Iin Suprapti, saya sekarang tidak lagi sakit-sakitan," tuturnya.

Penyanyi senior Titiek Puspa kepada Intisari pernah mengaku mengalami nasib serupa. Semasa kecilnya ia sempat sakit-sakitan, sehingga orang tuanya merasa perlu mengganti namanya. Tiga kali malah. Dari Sudarwati diganti Kadarwati, sampai kemudian diubah menjadi Sumarti.

Tidak cocok dan berat nama

Menurut Iin SP, supranaturalis yang tinggal di Bekasi, tradisi Jawa mengenal dua istilah yang disebut kabotan jeneng ("keberatan nama") dan "tidak cocok nama".

"Keberatan nama", di sini bukan dalam arti karena deretan nama yang panjang, tapi lebih pada makna yang dianggap terlalu tinggi atau muluk. Misal, Bagus Sarwa Prakosa merupakan nama bermakna tinggi, artinya "tampan dan selalu kuat". Demikian pula nama-nama Indah Cahyaning Wulan (sinar bulan yang elok), Sekar Langit Cahyaning Wulan (sinar bulan bunganya langit) memiliki makna yang baik dan mendalam.

Nama-nama seperti itu bisa dianggap "berat" bagi seseorang sehingga yang bersangkutan tidak kuat menyandangnya.
Tapi, bisa jadi nama-nama serupa akan terasa biasa-biasa saja ketika disandang orang lain.
"Keberatan nama" tidak secara otomatis berlaku bagi orang lain. "Kasus kabotan jeneng lebih dikarenakan tidak sinkronnya makna nama tersebut dengan aura pemiliknya," kata Iin SP.

Sedangkan untuk istilah "tidak cocok nama", jelas Iin SP, lebih berdasar pada hasil perhitungan unsur mistis kultur Jawa.
Dikatakan cocok kalau dalam perhitungannya jatuh pada unsur "Sri", "Lungguh", atau "Gedhong".
Sebaliknya, dianggap "tidak cocok nama" bila hasil perhitungan Jawa jatuh pada unsur "Lara" atau "Pati". (Baca boks: Perhitungan Nama Ala Jawa).

Dalam kasus nama Bagus Sarwa Prakosa misalnya, yang mengandung arti baik, yakni "tampan dan selalu kuat", berdasarkan perhitungan neptu Jawa kebetulan juga masuk kategori baik karena jatuh pada unsur "Sri" yang berarti kemakmuran.

Namun bukan berarti nama yang dianggap baik (cocok) menurut perhitungan Jawa akan selalu baik (kuat) disandang oleh seseorang.

"Kalau seseorang kuat menyandang nama itu diyakini hidupnya akan serba makmur. Sebaliknya, kalau si empunya nama ternyata malahan sakit-sakitan, berarti ia tak kuat atau keberatan menyandang nama tersebut," tutur Iin SP.

"Keberatan nama" dan "tidak cocok nama", katanya, sama-sama memberikan dampak yang kurang baik terhadap diri pemiliknya. Biasanya disertai dengan beberapa kondisi yang tidak menyenangkan, seperti sering sakit-sakitan, sakit tak sembuh-sembuh, atau kerap tertimpa sial dalam hidupnya, dsb.

Kalau seseorang mengalami hal-hal demikian, artinya orang tersebut tidak cocok atau keberatan (tidak kuat) menyandang nama itu. Kalau sudah demikian, tradisi berganti nama perlu dilaksanakan.

Konotasi negatif dan umur pendek

Yang unik, urusan makna sebuah nama ini bukan monopoli budaya Timur saja. Dalam tradisi Barat yang dikenal rasional pun juga ada keyakinan bahwa sebuah nama memiliki konotasi positif atau negatif.
Berdasarkan penelitian di California, seperti ditulis The Sunday Times, 29 Maret 1998, disebutkan bahwa pria dengan inisial nama yang berkonotasi negatif tidak berumur lebih panjang dibandingkan dengan pria yang memiliki inisial nama berkonotasi positif.


Penelitian terhadap sertifikat kematian orang di California antara tahun 1969 dan 1995 menunjukkan, pria yang inisial namanya memiliki konotasi negatif, seperti DIE, RAT, BUM, dan ASS, rata-rata meninggal pada usia 2,8 tahun lebih muda daripada kelompok kontrol (nama-nama dengan inisial tanpa arti).

Sebaliknya, pria berinisial nama positif, seperti ACE, WOW, JOY, usia harapan hidupnya rata-rata 4,48 tahun lebih panjang.


Berdasarkan pengamatan di Amerika, dalam Gunnar Pettersson: Names Never Hurt You, menunjukkan bahwa orang yang memiliki nama keluarga, seperti Small, Short, atau Little, kemungkinan lebih menderita perasaan rendah diri ketimbang nama-nama lain.

Hal senada dikatakan Alison B. Martin dalam Emerging Names in Bay County, FL, di Internet. "A bad name", tulis dia, akan memberikan suatu perasaan rendah diri sepanjang hidup bagi pemilik nama itu.

Hasil penelitian psikolog Albert Mehrabian, Ph.D., seperti tertuang dalam tulisan Selecting Attractive and Beneficial Baby and Adult Names, menunjukkan bahwa makna nama yang tidak menyenangkan atau kurang menarik cenderung merugikan atau mengalangi aktivitas pribadi, sosial, dan aktivitas kerja mereka.


Memilih nama untuk anak
Tak jarang, nama menjadi cerminan dari harapan orang tua terhadap anak.

Makanya, dalam memilihkan nama untuk anak, orang tua biasanya akan mempertimbangkan beberapa faktor.


Di masyarakat Barat banyak orang tua memilih nama anaknya dari nama tokoh yang disukai atau dikagumi. Misal, nama bintang film, politisi, teman semasa kecil, dsb. Dengan harapan si anak akan "mewarisi" kualitas yang dimiliki tokoh yang dikagumi itu. Sedangkan pasangan Jody Wobser dan Jim, seperti ditulis Alison, memberikan nama bagi enam anak mereka dengan inisial "J" (Jake, Jaclin, John, Joe, Jayme, dan Jared). Masing-masing diambil dari nama bintang film yang digabung dengan nama sahabat dekat pasangan itu.

Selain memberikan nama yang individualistis, mereka juga mempertimbangkan definisi, makna, dan konotasi nama itu. Keluarga ini merasa, definisi dan makna nama memberikan kepribadian dan karakter kepada yang bersangkutan.

Perihal memilih sebuah nama, Iin SP menyarankan, sebaiknya dihitung dulu berdasarkan perhitungan neptu Jawa. Calon-calon nama yang akan dipakai dihitung berdasarkan perhitungan neptuJawa.

Selain harus memenuhi kategori cocok (unsur "Sri", "Lungguh", "Gedhong"), sekiranya perlu memilih nama yang akan kuat disandang oleh anak itu. "Pilihlah nama yang tidak terlalu muluk-muluk, sak madya (yang biasa) saja. Nama yang 'berat' atau muluk, bisa jadi anak tidak kuat menyandangnya, akibatnya malahan sakit-sakitan," tuturnya.

Misal, calon nama yang ingin diberikan adalah Hendi Susanto. Menurut perhitungan Jawa, nilai nama itu adalah 10 {Hen(ha = 1) + di (da = 1) + Su (sa = 3) + san (sa = 3) + to (ta = 2) = 10}, berarti jatuh pada unsur "Pati". Unsur ini, dalam perhitungan Jawa, menunjukkan konotasi arti yang negatif, yakni berumur pendek. Maka dari itu perlu diupayakan agar jatuh pada unsur yang mempunyai arti positif ("Sri", "Lungguh", atau "Gedhong"). Misal, namanya diubah sedikit menjadi Hendi Susantho, sehingga nilainya menjadi 12 {Hen (ha = 1) + di(da = 1) + Su (sa = 3) + san (sa = 3) + tho (tha = 4) = 12}, dan jatuh pada unsur "Lungguh". "Mudah-mudahan kelak anak itu akan punya kedudukan yang baik," kata Iin SP.

Contoh lain, Nindita. Nama ini kelihatan keren, tapi memiliki makna yang tidak bagus, yakni tercela. Berdasarkan perhitungan neptu Jawa, Nindita memiliki angka 5 {Nin (na = 2) + di (da = 1) + ta (ta = 2) = 5}, dan jatuh pada unsur "Pati". Jadi, selain punya makna kurang baik, nama itu pun tidak cocok. Si pemilik nama itu diyakini akan berumur pendek. Tapi akan lain kalau pada nama itu disisipi huruf "h", sehingga menjadi Ninditha. Nilai nama itu pun menjadi 7 {Nin (na = 2) + di (da = 1) + tha (tha = 4) = 7}, dan jatuh pada unsur "Lungguh".

"Dengan sedikit mengubah nama itu, mudah-mudahan bisa mengubah nasib pemilik nama yang bersangkutan," ujar Iin SP.

Penggantian atau pengubahan nama, tutur Iin SP, tidak harus secara total.
Artinya, bisa hanya dengan menyisipkan, menambahkan, atau mengurangi satu huruf, boleh di depan maupun belakang nama itu.

Pergantian nama itu pun tidak harus sekaligus mengubah Akte lahir. "Yang penting niat batinnya ingin berganti nama. Kemudian dalam pergaulan keseharian menggunakan nama baru itu. Sementara untuk urusan resmi tetap bisa menggunakan nama sesuai akte lahir," ujarnya.

Perihal perhitungan nama, kata Iin, tidak hanya berlaku untuk pemberian nama diri seseorang, tetapi juga bisa untuk nama toko, perusahaan, atau yang lainnya. "Kalau sebuah nama jatuh pada unsur 'Sri', toko atau Perusahaan itu bisa laris dan maju," katanya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar