Minggu, 04 Desember 2011

NIKMATILAH KOPINYA, BUKAN CANGKIRNYA...

NIKMATILAH KOPINYA, BUKAN CANGKIRNYA

oleh Muhammad Ali pada 1 Desember 2011 jam 9:58


Suatu hari sekelompok alumni sebuah universitas yang telah mapan dalam karir masing-masing berkumpul dan mendatangi profesor kampus mereka yang telah tua. 

Percakapan segera terjadi dan mengarah pada komplain tentang stres di pekerjaan dan kehidupan mereka.

Setelah menawari tamu-tamunya kopi, profesor pergi ke dapur lalu kembali dengan poci besar berisi kopi dan cangkir berbagai jenis,ada dari porselin, plastik, gelas, kristal, dan gelas biasa. Beberapa di antaranya adalah gelas mahal yang sangat indah. 
Lalu professor mengatakan kepada para mantan mahasiswanya untuk menuang sendiri kopinya.

Setelah semua mahasiswanya mendapat secangkir kopi di tangan, professor itu mengatakan, "Jika kalian perhatikan, semua cangkir yang indah dan mahal telah diambil, yang tertinggal hanyalah gelas biasa dan yang murah saja. 
Meskipun normal untuk menginginkan hanya yang terbaik bagi diri kalian, tapi sebenarnya itulah yang menjadi sumber masalah dan stress yang kalian alami.
 

Pastikan bahwa cangkir itu sendiri tidak mempengaruhi kualitas kopi.
Dalam banyak kasus, itu hanya kelihatan lebih mahal. Tapi di kasus lain, bahkan menyembunyikan apa yang kita minum. 
Apa yang kalian inginkan sebenarnya adalah kopi, bukanlah cangkirnya, 
namun kalian secara sadar mengambil cangkir terbaik dan kemudian mulai memperhatikan cangkir orang lain.

Sekarang perhatikan hal ini :

Kehidupan bagai kopi, sedangkan pekerjaan, uang, dan posisi dalam masyarakat adalah cangkirnya. 
Cangkir bagaikan alat untuk memegang dan mengisi kehidupan. 

Jenis cangkir yang kita miliki tidak mendefinisikan atau juga mengganti kualitas kehidupan yang kita jalani.

Seringkali, karena berkonsentrasi hanya pada cangkir, kita gagal untuk menikmati kopi yang Tuhan sediakan bagi kita. 
Tuhan memasak dan membuat kopi, bukan cangkirnya. 

Jadi, nikmatilah kopinya, jangan cangkirnya."
 

Sadarilah, jika kehidupan itu lebih penting dibanding pekerjaan, 
jika pekerjaan itu membatasi diri dan mengendalikan hidup, maka sebenarnya akan menjadikan diri kita sebagai orang yang mudah diserang dan rapuh akibat perubahan keadaan. 

Pekerjaan akan datang dan pergi, namun itu seharusnya tidak merubah diri kita sebagai manusia. 

Pastikan kita membuat tabungan kesuksesan dalam kehidupan selain dari pekerjaan yang kita jalani. 

Dan pastikan kita menjadi keajaiban bagi diri sendiri dan orang lain.
 

Sumber E-Book : Be a miracle person

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar